buat yang males nyari

Selasa, 17 Januari 2012

SHINING RAY

ano... karena kebetulan saja saya dapet tugas dari guru biologi untuk bikin cerita, saya manfaatkan saja untuk bikin fanfic yang saya adaptasi dari salah satu lagu 164P-san beejudul SHINING RAY [jadi mungkin kamu udah tau ceritanya bakalan berakhir kayak gimana ^^]

silahkan menikmati...



------------------------------------------------------------------------------------

kuingin tidur untuk beberapa saat
tapi tahukah kamu kotak harta karun ku
di dalam kotak itu
terdapat kenangan... sejuta kenangan
yang terlalu berharga (untuk diakhiri) [by 164 feat. Hatsune Miku]
-
By Saruwatari Akira

"cerita ini kupersembahkan bagi setiap orang yang berhasil mengakhiri hidupnya dengan sesuatu yang dia mau, bukan dengan sesuatu yang orang lain inginkan"

-

“besok sudah boleh pulang ya dik…”
“iya sus…”
“moga-moga lombanya menang ya...”
“hehehe... makasih ya”

Akhirnya penantianku pun sudah selesai. besok aku bisa kembali bertemu dengan dunia luar lagi. Setelah sekian lama terbaring di sini karena usus buntu itu, diriku pasti akan mendapatkan hari-harinya kembali di pagi nanti. di sini, aku masih terjaga sambil mendengarkan beberapa musik sebelum diriku tertidur lelap. Dan inilah awal dari sebagian kisah hidupku, seorang anak cewek biasa bernama Vania.

Beberapa hari kemudian, hari itu pun telah tiba. Hari dimana aku bisa kembali bertemu dengan dunia luar dan sahabatku satu-satunya, Dita. Seorang cewek yang telah kukenal baik dan sudah bersamaku bahkan sebelum yang aku sadari. Dia pun sepertinya sangat menikmati hari-harinya bersamaku. Seorang anak yang sedikit nyentrik dan aneh, tapi berkat dialah hidupku bisa menjadi lebih berwarna. Berkat dialah diriku ini mendapat teman setelah sekian lama kesepian karena terlalu sering berada di rumah sakit.

sekarang aku masih berada di bus kota dalam perjalanan menuju ke sekolah. Baru saja kuhabiskan sepotong roti isi karena kebetulan aku sedang tidak ingin sarapan. Dan baru saja kusadari, bus ini terasa sedikit lekang tidak seperti biasanya, bahkan sama sekali tak kulihat anak berseragam di sini. sesaat, kucoba untuk melihat berbagai pemandangan cerah yang sudah lama hanya bisa kulihat di balik jendela kamar. Terlihat jalanan tidak terlalu penuh sesak dengan kendaraan. Memang sepertinya hari ini tidak sesibuk dulu lagi.

“eh?”

Bis berhenti.  Dan sesaat setelah aku keluar, pandanganku tertuju ke arah gerbang sekolah di seberang. Kulihat beberapa anak cowok sedang mengganggu seorang cewek di situ. Dan sepertinya aku mengenal dia. Kuyakin dia adalah cewek yang rasanya sudah terlalu lama kukenal. Mungkin karena itulah aku tidak terlalu terkejut melihat dirinya diganggu seperti itu. Kucoba untuk melangkah menuju beberapa cowok tersebut, tapi mereka langsung pergi meninggalkan kita berdua di sini.

“abis diapain kamu?”
“lho? Van... VANIA!?! Ahahahah... Udah balik kamu!?!”
“seneng banget sih, ketemu aku?”
“abisnya kamu kelamaan sakit sih... hehehe”
“siapa juga yang pengen? Trus itu tadi cowok-cowok pada ngapain sih?”
“ah, biasa... enggak usah diurusin”

kemudian, kita pun berjalan bersama menuju ke dalam sekolah karena kebetulan saja kita satu kelas. Dita disampingku sedang berjalan sambil merangkul tangan kiriku dengan kepalanya bersandar di pundakku. Tangan kanannya juga sesekali bermain-main dengan rambut panjangku. Dan rasanya beberapa orang yang kita lewati seperti berbisik dan tertawa kecil dibalik kita. Entah mengapa rasanya dia menjadi sedekat ini denganku, atau ini hanya karena aku yang terlalu lama di rumah sakit? Mungkin hanya karena cowok-cowok tadi sih...

Dan setelah beberapa langkah kita lewati, kita tiba di kelas yang terlihat sudah ramai dipenuhi teman-teman yang tidak terlalu kukenal. Hanya beberapa teman sesawa cewek saja yang menyapa Dita dan aku, dan beberapa cowok yang sepertinya sibuk menjahili Dita dari pojok kelas.  Kita berdua menempati dua kursi terakhir yang masih kosong di pojok belakang kelas. Dan saat itu juga, bel masuk berbunyi  dan guru pertama masuk ke kelas.

Beberapa jam kemudian, pelajaran telah usai dan orang-orang di kelas sudah keluar. Dita yang duduk di belakangku langsung menarikku keluar sesaat setelah kupegang tasku. Tiba-tiba saja, setelah beberapa langkah badanku ambruk di depan kelas. perutku terasa sangat melilit seperti diremas terlalu keras. Kepalaku juga terasa sangat berat dan panas. Dan tanpa kusadari, perutku bagaikan naik ke atas kepalaku dan perasaan untuk muntah pun tak bisa ditahan lagi.

“Vania!!! Van, kamu enggak apa-apa!?!”
"eh? enggak kok"
"tampangmu beda banget sama omonganmu tau nggak?!?"
"beneran enggak apa-apa kok"
“nggak tau ah...”
Dita pun langsung menarik tanganku dan mengagkat seluruh tubuhku. Saat itu pemandangan sekitar berubah menjadi samar dan diriku semakin tak bisa merasakan tubuhku. Tapi masih bisa kurasakan Dita yang berlali sekencang yang dia bisa, sepertinya membawaku ke UKS, menurut bau obat-obatan yang masih bisa kucium. Tapi semakin lama diriku semakin kehilangan kesadaran dan semua pun menjadi gelap.

“...”

Beberapa jam kemudian, aku terbangun di tempat yang sama masih bersama Dita yang sedang cemas menungguku. Dan sepertinya, kita sudah cukup lama di sini. Sekarang, hanya ada kita yang masih berada di sekolah ini di ruangan ini. Aku masih mengumpulkan kekuatan antara untuk duduk dan untuk menahan rasa sakit di perutku yang masih ada. Sementara itu,di dekatku Dita sedang memandang langit sore yang sepertinya baru saja memerah dibalik jendela. Dan sepertinya untuk pertama kalinya Dita menoleh kearahku dan langsung memasang entah muka cemas, kaget, ataupun sedih.

“van... sori ya bikin kamu jadi sampe kayak gini... aku lupa kalo kamu sakit”
“ah enggak kok... emang kamunya kan orangnya rusuh kayak gitu, hehehe...”
“aaahhh!!! Vania jahat!!! Mmm...”
“ahahahahah...”
“ga tau ah... tuh, minum dulu obatmu, sama itu rotinya dimakan dulu”
“iya iya...”

“...”

“jadi inget lagu itu ya?”
“lagu apaan? Shining ray?”
“tau aja deh... hehehe”
“tau aja donk... besok minggu kamu mainin lagu itu kan?”
“ah?”

Bahkan, sampai saat ini aku baru sadar hal itu. Beberapa hari sebelum aku masuk rumah sakit, aku mendaftarkan diri pada lomba piano di sebuah taman kota. Entah mengapa aku bisa melupakan sesuatu yang terlalu kusukai, bahkan kubanggakan? Apa semua ini hanya karena penyakit yang kuderita? Apa hanya karena itu saja aku harus melupakan duniaku? Dan mengapa diriku bisa mendapatkan kesematan seperti itu ketika badanku sudah seperti ini?

“eh... Dit”
“apaan?”
“kalau misalnya aku mati bentar lagi gimana?”
“apaan?”
“enggak kok Cuma nanya...”

Tiba-tiba ruangan ini terasa sangat hampa. Semua bagaikan berhenti setelah percakapan itu berakhir. Dan sampai detik ini Dita masih berdiri terpaku disitu dengan tatapan kosong tertuju kearah mataku. Diriku pun rasanya antara tidak bisa meneruskan percakapan tadi dan membalas tatapan itu. Sesaat kemudian, dia mulai menangis dan  tubuhnya sedikit ambruk ke tembok. Dan tiba-tiba saja, dia berlari ke arah kasur dan terjun keatasku. Dia pun memeluk tubuhku dengan erat dan mulai menangis di pundakku

“kok nangis?”
“Vania geblek...”
“maaf ya dit, aku kan cuma bercanda”
“tapi kalo beneran gimana? Kalo kamu mati beneran gimana?”
“aku kan cuma be-”
“TAPI AKU SUKA SAMA KAMU VAN...”
“...”

Sesaat setelah omongan itu, ruangan ini terasa hampa lagi. Diriku disini masih terbaring diatas ranjang dengan penuh kebingungan. Sedangkan Dita yang sudah berhenti menangis merangkak di atasku dan memandang lurus kearah mataku dengan mukanya yang memerah dan dibasahi air matanya, walaupun tangisannya sudah reda. Tubuhnya perlahan terangkat keatas dan kedua tangannya bersandar di pundakku. Sesekali  jarinya bermain di rambutku yang tergerai di atas bantal.

“dit”
“...”
“kamu serius tuh?”
“van... jujur aja, sejak pertama kali ketemu kamu dulu waktu lulus sd... aku udah seneng kamu... Tapi makin lama aku kenal kamu rasanya aku jadi makin cinta sama kamu... Soalnya kelakuanmu bisa bikin aku seneng terus...
“Dit... kamu-”
Aku tau kita sama-sama cewek, tapi aku enggak tau harus gimana... soalnya aku... aku  enggak pernah ketemu cowok yang bisa baik sama aku . Aku enggak tau harus gimana lagi buat nyari orang yang bisa jadi pacarku... Makanya itu aku Cuma bisa bilang aku suka kamu... walopun aku tau aku enggak bakal bisa cinta kamu... soalnya... ah,”
“Dit...”

Dan Dita pun kembali memeluk diriku lebih erat dari sebelumnya. Air matanya pun kembali menetes lebih banyak dan suara tangisannya terdengar lebih keras dari yang sebelumnya. Tapi itu semua sudah cukup untuk menjelaskan semua perasaannya. Dan disini, aku tak bisa berkata apa-apa karena semua hal yang terjadi secara bersamaan dan terlalu cepat di diriku hari ini. Dan tiba-tiba, bibir Dita langsung meluncur ke bawah menuju bibirku. Waktu terasa berhenti ketika hal teraneh itu terjadi di sini, di diriku. Tapi, entah mengapa diriku tidak bisa menolak hal ini untuk berlanjut. Diriku seakan rela dan membiarkan semua ini terjadi, setelah mendengar semua omongan Dita tadi...

Malamnya, kita berdua pulang dari sekolah dengan berjalan kaki menyusuri trotoar kota yang tak terlalu terang dan seramai tadi siang. Dita masih ada di dekatku, berjalan di sampingku dengan tubuhnya yang sedikit bergetar, sambil melingkarkan tangannya di pinggangku dan menyandarkan kepalanya di leherku. Sesekali kucoba untuk membelai rambut pendeknya yang halus untuk sedikit menenangkannya. Dan tanpa kusadari, air matanya pun mengalir lagi membasahi pundakku.

“kamu enggak mikir kalo aku ini aneh kan?”
“nggak kok...”
“beneran?”
“beneran enggak kok Dit...”

Beberapa langkah kita habiskan tanpa berbicara karena perasaan canggung ini. dan tanpa terasa, kita sudah sampai di depan rumahku. Tapi rasanya masuk ke dalam bangunan itu dan meninggalkan Dita pulang seorang diri, setelah semua hal yang terjadi di UKS tadi, bagaikan perpisahan yang terlalu lama dengannya.

“Van... udah dulu ya”
“iya... besok kamu bakalan liat aku kan?”
“jelas donk... masa’ pacar sendiri enggak ditemenin? ”
“EH? E...eh?”
“…”
“Dit…”
“a… aku pulang dulu ya”

Tiba-tiba wajahku terasa memerah hanya karena omongan tadi. Baru pertama kali ini rasanya ada orang yang mau berkata seperti itu kepadaku, terlebih lagi dia adalah sahabatku yang selama ini ku kenal dan dia cewek. Dan berapa menit pun berlalu tapi aku masih belum tau harus meneruskan percakapan dengan apa. Tapi, saat itu juga, Dita berjalan mendekatiku dan memelukku untuk beberapa saat. Dan kemudian, dia sedikit berjinjit dan menyentuhkan bibirnya di bibirku untuk waktu yang cukup lama.

“van, maaf banget ya kalo aku kayak gini...”
“enggak apa-apa kok Dit, aku juga seneng kok...”
“bener nih?”
“bener kok...”

Dan  kuberikan sebuah ciuman kecil di pipinya. Dita pun tersenyum kegirangan seperti seorang anak dengan permen pertamanya. Lalu, Dita pun segera meninggalkanku di sini untuk pulang karena langit yang sudah cukup gelap. Dan akhirnya kumasuki rumahku kembali untuk bertemu dengan mama dan adikku. Terlihat di dalam sana mereka yang sedang menonton televisi. Mendengar suara pintu tertutup, mereka menghampiriku dan menyambutku dengan senyuman hangat dan obrolan penuh tawa yang jarang kudapatkan di rumah sakit waktu itu.

“makan dulu lho Van... udah malem tuh”
“oke ma...”
“oh iya van, itu tadi yang diluar siapa? Temen mu?”
“HE? Mama.... mama liat?”
“ga sih, Cuma denger suaranya aja kok...hehehe”
“ah... mama gitu ah”
“iya iya... tapi, abis ini kamu langsung tidur lho ya! Besok kan lomba”
“oke deh...”

Beberapa jam kemudian, semua sudah berada di dalam kamar dan tertidur lelap, kecuali diriku. Saat ini, diriku masih terjaga di atas kasur  sambil bermain-main dengan botol berisi beberapa jenis kapsul yang baru saja kuminum, dan berusaha mengingat  segalanya yang terjadi di siang hari. Bagiku, semua hal tadi sepadan untuk membuatku tetap bahagia. Seseorang yang dengan rela menembus seluruh batasnya untuk mencintaiku pun menurutku sudah lebih cukup untuk menjagaku untuk tetap melupakan rasa sakit ini. Dan semua itu kudapatkan cukup dari satu orang yang sudah terlalu lama kukenal. Entah seperti apapun balasan seperti apa yang pantas dia terima, sepertinya tak akan mampu kubuat.

“Dit, makasih banyak y- AHHH!!!”

tiba-tiba, rasa sakit di perutku benar-benar tak tertahankan. Langsung kubawa tubuhku ini secepat mungkin ke kamar mandi tanpa harus membangunkan ibuku. setibanya di kamar mandi, tubuhku sudah tidak kuat untuk bergerak. kepalaku jadi terasa sangat panas dan rasanya sangat susah untuk melihat keadaan sekitar. Dan akhirnya semua isi perutku kembali keluar. Rasanya malam ini penyakitku semakin parah, bahkan sepertinya sudah pada puncaknya. Tapi, jika sampai ibuku tahu segala hal yang terjadi, diriku pasti akan berakhir di rumah sakit beberapa jam lagi dan kesempatanku untuk tampil di lomba akan hilang selamanya.

Akhirnya, kejadian tadi berakhir dan diriku masih terkapar tak berdaya di lantai kamar mandi . tapi aku tahu aku tak boleh membuang waktu istirahatku. Dengan sisa kekuatanku, aku berusaha untuk menggerakkan semua anggota tubuh yang ada. dengan langkah perlahan diriku kembali masuk ke kamar walaupun rasa sakit ini semakin parah di setiap langkahku. Kukunci pintu dari dalam agar tidak ada seorang pun yang melihat keadaanku di malam ini. Kuatur alarm tepat di pukul  6 pagi agar aku masih sempat bersiap-siap. dan tanpa sempat mencapai kasur, diriku tergeletak lemas tertidur di lantai kamar.

alarm berbunyi. Langit terlihat belum terlalu cerah. Diriku sepertinya bangun terlalu pagi dan badanku terasa perih dan berat. Tapi aku tak boleh membuang waktu lagi. Langsung kulepas semua bajuku, diriku pun bergegas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badanku, baju yang kurasa pantas untuk lomba nanti, dan kuhidupkan keyboard usang di pojokan kamar yang sudah lama kutinggal di rumah sakit dan kucoba memainkan lagu itu.

“ah... Vania udah bangun? Udah siap berangkat nih?”
"iya... ng, nanti adek ikut nganter?”
“o iya, tadi Dita kesini, mau nganter kamu katanya...”
“e...”

Kucoba untuk menjawab mama seceria munkin. Tapi ternyata tubuhku masih belum bisa bergerak sesuai keinginan.

“masih ngantuk nih? Mama tunggu di bawah ya...”
“i... iya deh”

Langsung saja kukemasi barang-barang yang perlu kubawa dan kucoba untuk berlali kecil berharap orang bisa lupa dengan sakit di tubuhku. Dan ketika sampai di ruang tamu, Dita dengan kaos santai dan celana pendek jeans yang rasanya terlalu santai untuk acara seperti ini sedang duduk dengan headset besar menempel di kupingnya.

“Dit...”
“ah... sayang, udah siap?”
“sa... sayang? EH? Ntar kalo mama tau bahaya Dit!!!”

“tau apa?”
“a... ah, enggak apa-apa kok ma”
“hm? Akhir-akhir ini kayaknya kamu juga belum ngasih tau sesuatu ya?”
“ah enggak kok...”
“beneran... sampe sekarang mama masih belum tahu kamu mau main lagu apa...”
“eh? Ahahaha...”

Beberapa saat kemudian, kita sudah berada di taman tempat diadakannya lomba piano itu. Terlihat beberapa orang yang sepertinya seumuran denganku berpakaian lebih rapi dari diriku yang hanya mengenakan kemeja dan jeans. Saat ini,lomba sudah dimulai dan aku bersama Dita sedang berjalan kecil mengelilingi taman untuk menunggu giliran tampil. Beberapa kali rasa sakit ini datang lagi tapi kucoba untuk tak peduli.

“oh iya Van, kayaknya Cuma kamu aja deh yang enggak ngebawain musik klasik?”
“iya sih, kayaknya...”
“kenapa emang? Enggak bisa?”
“bisa-bisa aja sih... Cuma kan-”
“Cuma apa?”
“ ya orang main piano enggak harus pake musik klasik kan?”
“iya juga sih… ”
“oh iya dit… a-”
“kenapa?”
“nggak kok…”

Tiba-tiba, juri memanggil namaku dan menghentikan seluruh percakapan tadi. Sesaat, sebelum diriku pergi meninggalkan kursi, Dita menggenggam kedua tanganku dengan erat dan memandangku dengan senyumannya yang paling gembira, saat itu juga dia pun langsung memberikan ciuman yang cukup dalam di bibirku. Sesaat kucoba untuk memejamkan mata melupakan rasa sakit di tubuhku ini. Dan entah beberapa menit kemudian, kubuka kembali mataku dan beberapa peserta dan orang tua yang kebetulan melihat adegan itu memandang kita dengan pandangan bingung, kaget, dan sedikit jijik. Tapi aku tidak peduli dengan itu, selama hal itu kudapatkan dari Dita-ku satu-satunya.
Lalu, kulangkahkan kakiku menuju panggung di depan semua orang. Dan baru beberapa langkah kubuat, rasa sakit kembali muncul dan terasa cukup keras. Kepalaku yang terasa semakin berat pun membuat kakiku melangkah tanpa arah. Beberapa orang disekitar melihatku dengan cukup cemas dan kebingungan. Tapi, aku tak boleh berhenti. Hal seperti itu tak boleh menghalangi diriku untuk tampil. Dan di atas panggung itu, kuberdiri di depan semua orang tapi hanya mata Dita-lah yang terus ku lihat.

“saya Vania, akan membawakan lagu berjudul Shining Ray, oleh 164P dan Hatsune Miku”

terdengar beberapa tepukan tangan yang cukup riuh, disertai beberapa suitan dan teriakan nama Hatsune Miku dari peserta-peserta cowok. Sesaat, semua kegaduhan itu langsung berhenti, menunggu piano ini berdenting. dan saat itu juga, aku mulai mengawali lagu itu. Perlahan, setiap dentingan nada yang keluar, mengingatkanku dengan berbagai kepingan lirik dari lagu yang kubawakan. Dan sesaat, kucoba untuk membisikkan lagu itu di mulutku, yang sepertinya sedang menceritakan hidupku akhir-akhir ini. Sebuah kehidupan yang sedang menanti akhirnya

Dan semakin lama, rasa sakit ini muncul dan semakin tak tertahankan. Tapi bagaimanapun juga, aku berusaha untuk memainkan sisa nada yang belum dimainkan. Tapi semuanya menjadi semakin samar dan samar. Mataku terasa sangat berat dan tidak bisa melihat secara jelas. Tubuhku terasa semakin ringan dan perlahan tidak dapat digerakkan lagi. dan tanpa terasa diriku pun runtuh ke belakang, dan saat itu pula jantungku terasa sangat lambat. Seketika itu juga, orang-orang terdengar berlarian ke arah sini. Kudengar suara mama, dan beberapa orang bergema di atasku. Dan meski semua sudah tidak jelas, terlihat seseorang mendekati piano hitam tadi. terdengar bait terakhir dari lagu itu dimainkan. Tapi siapa?

“dit... ah,”
“sayang...”

Dan semua warna berubah menjadi hitam. Semua suara berubah menjadi membisu. Diriku sekarang hanyalah sebuah jasad tak bernyawa yang cukup beruntung bisa mengantarkan nyawanya ke tempat ini.



























Pagi itu, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit

“Vania,”
“...”
“mama boleh cerita sesuatu enggak?”
“kenapa ma?”
“tadi... dokter yang ngerawat kamu selama ini bilang...”
...”
“kalau umurmu cuma sampai besok minggu”
“...”
“tadi dia bilang kalo kondisi bakteri di ususmu udah terlalu parah dan-”
“enggak apa-apa kok ma…”
“tapi-”
“oh iya ma… aku boleh minta satu hal aja nggak ma?”
“apaan van?”
“aku masih boleh ikut lomba piano besok minggu kan?”
“tapi van-”
“aku Cuma pengen menangin sesuatu ma... aku enggak mau berakhir jadi orang yang cuma bisa ngabisin waktu seumur hidup buat belajar aja...”
“van...”
“…”

mama pun terdiam sebentar, dan kemudian tersenyum kecil untuk beberapa saat. Diriku pun juga tersenyum membalas semua kebaikan yang sudah dia berikan. Dan tanpa kusadari, diriku lupa untuk menangisi kematianku di depan sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar